Nikmatnya Kuliner Semarang

Gambar

Ratusan tulisan kuliner khas semarang sudah saya suguhkan, responnya luar biasa. Setiap hari ada saja yang bertanya, baik lewat email, sms dan bb. Ini bukan semata-mata karena sajian hidangannya yang banyak, tapi karena lengkap dan sajian cita rasanya betul-betul mak nyusss.

Nah, bagi anda yang ingin usahanya dimuat disini, saya memberikan ruang yang luas untuk berpromosi. Saya akan update terus perkembangan usaha anda dari hari ke hari, baik tulisan maupun foto-foto usaha anda.

Agar jumlah penikmat kuliner anda, makin hari, makin ramai. Biaya jangan jadi persoalan, sebab saya hanya butuh biaya langganan internet saya.

Silahkan hubungi saya di 081280262995 Pin bb 29abb098 atau email : mas_uha@yahoo.com.

O ya, kalo rumah anda butuh karpet bagus tur murah, atau mau beli sajadah masjid, silahkan kunjungi http://www.tukangkarpet.com

Sukses selalu buat anda.

 

Soto Neon Pak Ni

Soto Neon

Soto Neon

Sejak tahun 80-an, warung soto satu ini cukup populer di Semarang. Soto Neon yang berada di Jalan Brumbungan tepatnya di Taman Brumbungan Semarang Tengah tersebut memiliki pelanggan loyal.

Warung tersebut didirikan oleh Sarkani atau lebih dikenal dengan Pak Ni yang kini sudah menginjak usia 72 tahun. Nama Neon, menurut Pak Ni diberikan oleh para pelanggannya. Dahulu sebelum mangkal di Taman Brumbungan, Pak Ni mendorong gerobak soto keliling wilayah Semarang. yakni di gabahan, Gandul, Plampitan, Johar, Ngabangan dan Beteng. Dulu di kawasan tersebut dijual jam 18.00 hingga tengah malam. Untuk penerangan, Pak Ni memakai neon di depan gerobak. Sementara sumber listriknya menggunakan accu yang sudah dimodifikasi. Karena, satu-satunya soto gerobak yang menggunakan lampu neon, maka pelanggannya menyebut soto neon.

“Nama itu yang mengusulkan para pelanggan. Ketika pagi saya keliling di depan Loyola, Widosari, Karangwulan mulai pukul 07.00 sampai 11.00 siang,” ujar Pak Ni ditemani anak-anaknya.

Sebelum mangkal seperti sekarang, Pak Ni sempat istirahat beberapa bulan lamanya. Tahun 90-an kembali keliling mendorong gerobak. Dan tahun 1997 dianjurkan untuk mangkal di Brumbungan dekat dengan rumahnya. Kemudian mendirikan tenda sebagai tempat menetap di lapangan kosong.

Soto Neon sudah melegenda di kalangan warga Tionghoa yang bermukim di Semarang dan sekitarnya. Ada salah satu pelanggan yang kebetulan tinggal di Singapura memesan khusus soto neon untuk dikirim ke Singapura. Selain itu ada juga pelanggan datang dari Jogja, khusus hanya menyantap soto racikan Pak Ni.

“Pelanggan dari Jogja setiap mau ke sini selalu telepon dulu apakah buka atau tidak. Jadi mereka datang ke sini hanya mau makan. Selain itu ada juga pelanggan yang datang dari Jakarta, Jepara, Pemalang, Kendal, Bandung, dan Solo,” imbuh suami Ngatiyem ini bangga.

Selain itu banyak pula tokoh, pejabat, dan selebritis yang menyambangi warungnya seperti Bibit Waluyo, Menteri Purnomo Yusgiantoro, Roby Tumewu, Jupiter, Remy Silado, Victor Hutabarat, Atalariksyah, dan Asti Ananta.

Soto Pak Ni merupakan soto asli Semarang yang dipelopori almarhum Pawiro Sumito dari Sukoharjo yang dulu sempat memiliki 16 pikul soto pada tahun 50-an. Pak Ni yang asli Welahan Jepara ini sendiri mewarisi keahlian  Pawiro dan meneruskannya hingga sekarang.

Keunikan soto Pak Ni pada onclangnya. Biasanya onclang dicampurkan ke dalam soto tidak langsung disajikan. Khusus Soto Neon, onclang disajikan dalam mangkok khusus, sehingga pelanggan tinggal mengambilnya dalam keadaan segar. Demikian pula seledrinya. Kuahnya sama dengan kuah di soto Semarang lainnya, agak keruh karena bumbu yang dicampurkan ke dalamnya.

Soto Neon buka dua kali, pagi pukul  06.00 – 14.30 dan malam hari pukul 16.30 hingga 23.00. Sehari warung ini menghabiskan minimal 11 ekor ayam. Untuk kebutuhan beras mencapai 16 kilogram pada hari biasa dan 25 kilogram hari libur. Disediakan pula aneka macam sate. Mulai dari sate ayam, kerang, usus, puyuh, hingga rempela ati. Atau bisa juga memilih tempe goreng, perkedel, sosis solo, lunpia, martabak, kroket, resoles, tahu rebung, dan berbagai macam kerupuk. (adi/jpnn/lis)

Es Snow White

Es Snow White

Es Snow White

Berkunjung ke Semarang yang panas, enaknya minum yang segar-segar untuk membasahi tenggorokan. Untuk mengobati itu, salah satu alternatifnya mencicipi es di Pondok Es Snow White yang berlokasi di Jalan Wotgandul Dalam no 117A Semarang

Di pondok ini, disajikan beragam es dengan tampilan menawan. Disebut es snow white, menurut Budi Harsono Winarto, 62, pemiliknya, karena saat pertama kali dibuka, hanya menyuguhkan es isinya berwarna putih. “Isi es andalan kami semula adalah siwalan, agar-agar, kopyor, susu putih dan jeli,” ungkap Budi.

Namun, dengan banyaknya permintaan dari para pelanggan, maka inovasi pun dilakukan. “Akhirnya saya coba-coba sendiri, meramu berbagai macam bahan es. Dan jadilah beberapa macam es ini,” terangnya.

Es yang disajikan itu antara lain snow brown, yaitu es serut yang dilengkapi susu coklat, meses dan jeli, es snow black dengan cincau hitam. Sedangkan es shanghai diisi berbagai macam buah, meses, kelapa muda, kolang-kaling, nata de coco manisan nanas, susu. Ada juga es teler, es kopyor, es durian, es sarang burung dan masih banyak lainnya,” katanya.

Harga semangkuk es mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 15 ribu. Selain mengandalkan cita rasa lezat, Pondok Snow White juga menawarkan layanan dan suasana tempat yang nyaman. Hal ini terlihat dari penataan tempatnya. Siapa saja yang singgah betah berlama-lama.

Selain terjaga kebersihannya, dekorasi interiornya menarik. Dengan warna dinding cerah merah muda dan hiasan dinding Putri Salju bersama 7 kurcaci.

Warung es tersebut mampu menampung sekitar 50 orang. Ditambahkan Budi, dirinya memulai membuka warung es, saat usaha percetakannya bangkrut sekitar 1980-an.

Dirinya berpikir usaha apa yang dapat bertahan di saat krisis. Pilihan Budi jatuh pada kuliner. Awalnya, ia menjual nasi pindang serta soto pada pagi hari, sedangkan malamnya berdagang es snow white.

“Es snow white saya jual sore hingga malam karena di sebelah ada yang jualan bakmi jowo. Tapi pada perkembangannya, es snow white justru berkembang pesat. Akhirnya kami fokus berjualan es saja,” terangnya.

Hingga saat ini, pondok esnya buka pukul 11.00 sampai 22.00. Pelanggannya mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek. “Saya rasa yang suka dengan es, tidak hanya anak-anak tapi semua umur dan semua kalangan,” ungkapnya.(eny/lis)

Gimbal Udang Bu Sum

Gimbal Udang

Gimbal Udang

Menu-menu tradisional tetap digemari. Tak heran bila warung makan yang menyediakan masakan rumahan justru memiliki pelanggan loyal. Buktinya, Rumah Makan Bu Sum di Jalan Randusari Spaen 1 no 278 Semarang ini setiap hari dibanjiri pengunjung. Dari buka jam 06.00 sampai 16.00 warung tak pernah sepi, terlebih lagi pada jam-jam makan siang. Meskipun lokasinya berada di dalam kampung, pembeli tetap mencari.

Ada sekitar 50 jenis masakan Jawa, baik sayur maupun lauk-pauk yang disediakan oleh Suminah, 52, atau akrab disebut Bu Sum, pemilik warung. Kesemuanya masakan Jawa. Sebut saja lodeh kacang panjang-nangka muda, lodeh kangkung, otak-otak telur, perkedel, empal goreng, tempe goreng. Dan balado terong, oblok-oblok daun singkong, botok mlanding, oseng daun pepaya. Juga aneka sayur bening serta banyak lainnya. Konsumen tinggal pilih mana yang disuka.

“Paling banyak dicari pembeli itu lodeh kacang-gori (nangka muda), gimbal udang, juga oseng-oseng daun pepaya,”jelas Widiono, suami Bu Sum siang kemarin (5/6).

Pelanggan Bu Sum berbagai kalangan, kebanyakan para karyawan kantor, atau ibu-ibu pekerja yang tidak sempat masak. Bu Sum juga banyak melayani pesanan nasi dus dari instansi. Bahkan Wali Kota Sukawi Sutarip pun menjadi pelanggannya. “Pelawak Mamik, Tesi dan Didik Nini Thowok juga pernah makan di sini,”tambah Widiono yang sehari-hari PNS di Dinas Sosial Provinsi Jateng itu.

Bu Sum sebelumnya mangkal di Jalan Pemuda. Karena areal mangkalnya dibangun Gedung Bank Jateng, tahun 1990 pindah ke Jalan Randusari Spaen yang merupakan rumah tinggalnya. Diceritakan Widiono, awal buka di dalam kampung padat itu, dirinya sempat stres. Lantaran, tidak kelihatan dari jalan raya, siapa yang akan beli, begitu pikirnya waktu itu.

Lama-kelamaan, kelezatan masakan Bu Sum tersebar dari mulut ke mulut. “Pelanggan banyak juga yang dari luar kota. Misalnya para PNS daerah yang ada urusan di provinsi, makan di sini. Kami juga tidak paham, mereka tahu dari mana,”lanjut bapak 3 anak, 1 cucu ini seraya menambahkan dulu pegawai hanya 3 sekarang menjadi 14 orang yang kesemuanya perempuan. Rumah makan terus berkembang omzet per hari sekitar Rp 4 juta -5 juta. Tiap hari menghabiskan beras 70 kilogram. (lis)

Es Rumpi

Es Rumpi Semarang

Es Rumpi Semarang

Melepas dahaga dengan segelas es yang disuguhkan lengkap bersama hiasan menawan, hemm sungguh nikmat. Ingin coba, kunjungi saja Warung Es Rumpi di Jalan Simpang Baru Pujasera Lawang Sewu Semarang.

Berbagai macam es, disajikan oleh pemilik warung, Sulistyowati, 50, dan Agus Santosa, 51, warga Jalan Tanggul Mas Barat 3 no 250 Semarang ini. Es yang disajikan itu antara lain es sup buah, es kristal, es shanghai, es blusaphire, es bunga persik, es fantasi, es kombinasi dan masih banyak lainnya.

Menurut Sulistyowati, es di warungnya sengaja diberi nama aneh, agar pengunjung penasaran dan ingin mencoba. Misalkan saja es bunga persik, di dalamnya berisikan kolang-kaling, nata de coco, alpukat dan pemanis berupa susu. Sentuhan terakhir untuk mempercantik penampilan, ditambah jeli berbentuk bunga mawar, serta ditaburi biji selasih.

Sedangkan es fantasi, di dalamnya terdapat manisan pepaya dan mangga yang diserut sehingga terasa manis asin. Sementara untuk es kombinasi berisi kolang-kaling, cincau, nata de coco, tape ketan, alpukat, jeli, kacang merah dan susu coklat.

Untuk menikmati segelas es, pelanggan cukup merogoh kocek sekitar Rp 5.500. “Pelanggan dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Seringkali anak-anak suka dengan jeli yang ada di dalam es,” ungkapnya.

Selain di Jalan Simpang Baru Pujasera Lawang Sewu, es rumpi dapat dijumpai di Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Puri Anjasmoro Semarang. “Pertamakali saya buka usaha warung es rumpi di Jalan Jendral Sudirman Semarang,” tambahnya.

Warung ini tahun 2005 lalu. Sayangnya hanya buka di malam hari karena siang digunakan untuk bengkel. “Maka, kami buka dari pukul 06.00 hingga 23.00,” ungkapnya.

Dari waktu ke waktu usahanya terus berkembang, akhirnya ia membuka beberapa cabang baru. “Untuk cabang di Jalan Puri Anjasmoro dan Pujasera Lawang sewu buka dari pukul 10.00 – 21.00,” jelasnya.

Usaha yang dirintis ibu dari 5 orang anak ini terinspirasi dari seringnya jajan di luar rumah. “Suami sering mengajak makan di warung-warung di Semarang. Saya jadi tahu peluang bisnis kuliner, mana yang belum ada. Akhirnya saya memutuskan untuk buka warung es rumpi ini, yang masih belum banyak saingan,” katanya.(eny/lis)

Tahu Pong Gajahmada

Tahu Pong Gajah Mada

Tahu Pong Gajah Mada

Menikmati kuliner khas Semarang, tampaknya belum lengkap, jika tak singgah di Tahu Pong Gajahmada. Makanan yang disajikan dengan ciri khas kuah kecap ini, cukup populer di Semarang bahkan melegenda.  Terbukti sejak warung didirikan tahun 1972 hingga sekarang masih eksis.

Makan sekali rasanya langsung plong alias lega.

Pendirinya adalah almarhum Ny Ngatini. Saat ini, warung yang berlokasi di Jalan Gajahmada no 63 B Semarang tersebut dikembangkan oleh generasi kedua yaitu Miharto, 68, warga Tanggul Mas Barat Gang 5 no 69 Semarang dan Marsiyah, 60, warga Tanggul Mas Barat 5 no 71 Semarang.

Warung dengan 7 pelayan ini masih terus dikunjungi pelanggan. Menurut Miharto, salah satu kunci sukses, dalam mempertahankan keberadaan warungnya adalah dengan menjaga kualitas. “Tahu pong di tempat ini rasanya gurih, selain itu ukuran juga besar sekitar 10 cm dengan tebal 2 cm,” ujarnya.

Harga satu porsi tahu pong pun bervariasi, tergantung dari isi tahu pong tersebut. Tahu pong tanpa isi harganya sekitar Rp 8 ribu, tahu pong gimbal Rp 14 ribu, tahu pong telur Rp 17 ribu dan masih banyak lagi.

Tingginya minat pengunjung ke warung ini, dipengaruhi faktor lokasi di pinggir jalan raya yang merupakan pusat keramaian. “Kalau ditanya pelanggan kebanyakan dari mana, sepertinya semua kalangan. Mulai dari karyawan hingga pejabat,” terangnya.

Rata-rata setiap harinya, menghabiskan 70 hingga 80 porsi tahu pong. “Jika Sabtu dan Minggu jumlahnya bisa bertambah,” katanya.(eny/lis)