Nikmatnya Kuliner Semarang

Gambar

Ratusan tulisan kuliner khas semarang sudah saya suguhkan, responnya luar biasa. Setiap hari ada saja yang bertanya, baik lewat email, sms dan bb. Ini bukan semata-mata karena sajian hidangannya yang banyak, tapi karena lengkap dan sajian cita rasanya betul-betul mak nyusss.

Nah, bagi anda yang ingin usahanya dimuat disini, saya memberikan ruang yang luas untuk berpromosi. Saya akan update terus perkembangan usaha anda dari hari ke hari, baik tulisan maupun foto-foto usaha anda.

Agar jumlah penikmat kuliner anda, makin hari, makin ramai. Biaya jangan jadi persoalan, sebab saya hanya butuh biaya langganan internet saya.

Silahkan hubungi saya di 081280262995 Pin bb 29abb098 atau email : mas_uha@yahoo.com.

O ya, kalo rumah anda butuh karpet bagus tur murah, atau mau beli sajadah masjid, silahkan kunjungi http://www.tukangkarpet.com

Sukses selalu buat anda.

 

Soto Neon Pak Ni

Soto Neon

Soto Neon

Sejak tahun 80-an, warung soto satu ini cukup populer di Semarang. Soto Neon yang berada di Jalan Brumbungan tepatnya di Taman Brumbungan Semarang Tengah tersebut memiliki pelanggan loyal.

Warung tersebut didirikan oleh Sarkani atau lebih dikenal dengan Pak Ni yang kini sudah menginjak usia 72 tahun. Nama Neon, menurut Pak Ni diberikan oleh para pelanggannya. Dahulu sebelum mangkal di Taman Brumbungan, Pak Ni mendorong gerobak soto keliling wilayah Semarang. yakni di gabahan, Gandul, Plampitan, Johar, Ngabangan dan Beteng. Dulu di kawasan tersebut dijual jam 18.00 hingga tengah malam. Untuk penerangan, Pak Ni memakai neon di depan gerobak. Sementara sumber listriknya menggunakan accu yang sudah dimodifikasi. Karena, satu-satunya soto gerobak yang menggunakan lampu neon, maka pelanggannya menyebut soto neon.

“Nama itu yang mengusulkan para pelanggan. Ketika pagi saya keliling di depan Loyola, Widosari, Karangwulan mulai pukul 07.00 sampai 11.00 siang,” ujar Pak Ni ditemani anak-anaknya.

Sebelum mangkal seperti sekarang, Pak Ni sempat istirahat beberapa bulan lamanya. Tahun 90-an kembali keliling mendorong gerobak. Dan tahun 1997 dianjurkan untuk mangkal di Brumbungan dekat dengan rumahnya. Kemudian mendirikan tenda sebagai tempat menetap di lapangan kosong.

Soto Neon sudah melegenda di kalangan warga Tionghoa yang bermukim di Semarang dan sekitarnya. Ada salah satu pelanggan yang kebetulan tinggal di Singapura memesan khusus soto neon untuk dikirim ke Singapura. Selain itu ada juga pelanggan datang dari Jogja, khusus hanya menyantap soto racikan Pak Ni.

“Pelanggan dari Jogja setiap mau ke sini selalu telepon dulu apakah buka atau tidak. Jadi mereka datang ke sini hanya mau makan. Selain itu ada juga pelanggan yang datang dari Jakarta, Jepara, Pemalang, Kendal, Bandung, dan Solo,” imbuh suami Ngatiyem ini bangga.

Selain itu banyak pula tokoh, pejabat, dan selebritis yang menyambangi warungnya seperti Bibit Waluyo, Menteri Purnomo Yusgiantoro, Roby Tumewu, Jupiter, Remy Silado, Victor Hutabarat, Atalariksyah, dan Asti Ananta.

Soto Pak Ni merupakan soto asli Semarang yang dipelopori almarhum Pawiro Sumito dari Sukoharjo yang dulu sempat memiliki 16 pikul soto pada tahun 50-an. Pak Ni yang asli Welahan Jepara ini sendiri mewarisi keahlian  Pawiro dan meneruskannya hingga sekarang.

Keunikan soto Pak Ni pada onclangnya. Biasanya onclang dicampurkan ke dalam soto tidak langsung disajikan. Khusus Soto Neon, onclang disajikan dalam mangkok khusus, sehingga pelanggan tinggal mengambilnya dalam keadaan segar. Demikian pula seledrinya. Kuahnya sama dengan kuah di soto Semarang lainnya, agak keruh karena bumbu yang dicampurkan ke dalamnya.

Soto Neon buka dua kali, pagi pukul  06.00 – 14.30 dan malam hari pukul 16.30 hingga 23.00. Sehari warung ini menghabiskan minimal 11 ekor ayam. Untuk kebutuhan beras mencapai 16 kilogram pada hari biasa dan 25 kilogram hari libur. Disediakan pula aneka macam sate. Mulai dari sate ayam, kerang, usus, puyuh, hingga rempela ati. Atau bisa juga memilih tempe goreng, perkedel, sosis solo, lunpia, martabak, kroket, resoles, tahu rebung, dan berbagai macam kerupuk. (adi/jpnn/lis)

Es Snow White

Es Snow White

Es Snow White

Berkunjung ke Semarang yang panas, enaknya minum yang segar-segar untuk membasahi tenggorokan. Untuk mengobati itu, salah satu alternatifnya mencicipi es di Pondok Es Snow White yang berlokasi di Jalan Wotgandul Dalam no 117A Semarang

Di pondok ini, disajikan beragam es dengan tampilan menawan. Disebut es snow white, menurut Budi Harsono Winarto, 62, pemiliknya, karena saat pertama kali dibuka, hanya menyuguhkan es isinya berwarna putih. “Isi es andalan kami semula adalah siwalan, agar-agar, kopyor, susu putih dan jeli,” ungkap Budi.

Namun, dengan banyaknya permintaan dari para pelanggan, maka inovasi pun dilakukan. “Akhirnya saya coba-coba sendiri, meramu berbagai macam bahan es. Dan jadilah beberapa macam es ini,” terangnya.

Es yang disajikan itu antara lain snow brown, yaitu es serut yang dilengkapi susu coklat, meses dan jeli, es snow black dengan cincau hitam. Sedangkan es shanghai diisi berbagai macam buah, meses, kelapa muda, kolang-kaling, nata de coco manisan nanas, susu. Ada juga es teler, es kopyor, es durian, es sarang burung dan masih banyak lainnya,” katanya.

Harga semangkuk es mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 15 ribu. Selain mengandalkan cita rasa lezat, Pondok Snow White juga menawarkan layanan dan suasana tempat yang nyaman. Hal ini terlihat dari penataan tempatnya. Siapa saja yang singgah betah berlama-lama.

Selain terjaga kebersihannya, dekorasi interiornya menarik. Dengan warna dinding cerah merah muda dan hiasan dinding Putri Salju bersama 7 kurcaci.

Warung es tersebut mampu menampung sekitar 50 orang. Ditambahkan Budi, dirinya memulai membuka warung es, saat usaha percetakannya bangkrut sekitar 1980-an.

Dirinya berpikir usaha apa yang dapat bertahan di saat krisis. Pilihan Budi jatuh pada kuliner. Awalnya, ia menjual nasi pindang serta soto pada pagi hari, sedangkan malamnya berdagang es snow white.

“Es snow white saya jual sore hingga malam karena di sebelah ada yang jualan bakmi jowo. Tapi pada perkembangannya, es snow white justru berkembang pesat. Akhirnya kami fokus berjualan es saja,” terangnya.

Hingga saat ini, pondok esnya buka pukul 11.00 sampai 22.00. Pelanggannya mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek. “Saya rasa yang suka dengan es, tidak hanya anak-anak tapi semua umur dan semua kalangan,” ungkapnya.(eny/lis)

Gimbal Udang Bu Sum

Gimbal Udang

Gimbal Udang

Menu-menu tradisional tetap digemari. Tak heran bila warung makan yang menyediakan masakan rumahan justru memiliki pelanggan loyal. Buktinya, Rumah Makan Bu Sum di Jalan Randusari Spaen 1 no 278 Semarang ini setiap hari dibanjiri pengunjung. Dari buka jam 06.00 sampai 16.00 warung tak pernah sepi, terlebih lagi pada jam-jam makan siang. Meskipun lokasinya berada di dalam kampung, pembeli tetap mencari.

Ada sekitar 50 jenis masakan Jawa, baik sayur maupun lauk-pauk yang disediakan oleh Suminah, 52, atau akrab disebut Bu Sum, pemilik warung. Kesemuanya masakan Jawa. Sebut saja lodeh kacang panjang-nangka muda, lodeh kangkung, otak-otak telur, perkedel, empal goreng, tempe goreng. Dan balado terong, oblok-oblok daun singkong, botok mlanding, oseng daun pepaya. Juga aneka sayur bening serta banyak lainnya. Konsumen tinggal pilih mana yang disuka.

“Paling banyak dicari pembeli itu lodeh kacang-gori (nangka muda), gimbal udang, juga oseng-oseng daun pepaya,”jelas Widiono, suami Bu Sum siang kemarin (5/6).

Pelanggan Bu Sum berbagai kalangan, kebanyakan para karyawan kantor, atau ibu-ibu pekerja yang tidak sempat masak. Bu Sum juga banyak melayani pesanan nasi dus dari instansi. Bahkan Wali Kota Sukawi Sutarip pun menjadi pelanggannya. “Pelawak Mamik, Tesi dan Didik Nini Thowok juga pernah makan di sini,”tambah Widiono yang sehari-hari PNS di Dinas Sosial Provinsi Jateng itu.

Bu Sum sebelumnya mangkal di Jalan Pemuda. Karena areal mangkalnya dibangun Gedung Bank Jateng, tahun 1990 pindah ke Jalan Randusari Spaen yang merupakan rumah tinggalnya. Diceritakan Widiono, awal buka di dalam kampung padat itu, dirinya sempat stres. Lantaran, tidak kelihatan dari jalan raya, siapa yang akan beli, begitu pikirnya waktu itu.

Lama-kelamaan, kelezatan masakan Bu Sum tersebar dari mulut ke mulut. “Pelanggan banyak juga yang dari luar kota. Misalnya para PNS daerah yang ada urusan di provinsi, makan di sini. Kami juga tidak paham, mereka tahu dari mana,”lanjut bapak 3 anak, 1 cucu ini seraya menambahkan dulu pegawai hanya 3 sekarang menjadi 14 orang yang kesemuanya perempuan. Rumah makan terus berkembang omzet per hari sekitar Rp 4 juta -5 juta. Tiap hari menghabiskan beras 70 kilogram. (lis)

Es Rumpi

Es Rumpi Semarang

Es Rumpi Semarang

Melepas dahaga dengan segelas es yang disuguhkan lengkap bersama hiasan menawan, hemm sungguh nikmat. Ingin coba, kunjungi saja Warung Es Rumpi di Jalan Simpang Baru Pujasera Lawang Sewu Semarang.

Berbagai macam es, disajikan oleh pemilik warung, Sulistyowati, 50, dan Agus Santosa, 51, warga Jalan Tanggul Mas Barat 3 no 250 Semarang ini. Es yang disajikan itu antara lain es sup buah, es kristal, es shanghai, es blusaphire, es bunga persik, es fantasi, es kombinasi dan masih banyak lainnya.

Menurut Sulistyowati, es di warungnya sengaja diberi nama aneh, agar pengunjung penasaran dan ingin mencoba. Misalkan saja es bunga persik, di dalamnya berisikan kolang-kaling, nata de coco, alpukat dan pemanis berupa susu. Sentuhan terakhir untuk mempercantik penampilan, ditambah jeli berbentuk bunga mawar, serta ditaburi biji selasih.

Sedangkan es fantasi, di dalamnya terdapat manisan pepaya dan mangga yang diserut sehingga terasa manis asin. Sementara untuk es kombinasi berisi kolang-kaling, cincau, nata de coco, tape ketan, alpukat, jeli, kacang merah dan susu coklat.

Untuk menikmati segelas es, pelanggan cukup merogoh kocek sekitar Rp 5.500. “Pelanggan dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Seringkali anak-anak suka dengan jeli yang ada di dalam es,” ungkapnya.

Selain di Jalan Simpang Baru Pujasera Lawang Sewu, es rumpi dapat dijumpai di Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Puri Anjasmoro Semarang. “Pertamakali saya buka usaha warung es rumpi di Jalan Jendral Sudirman Semarang,” tambahnya.

Warung ini tahun 2005 lalu. Sayangnya hanya buka di malam hari karena siang digunakan untuk bengkel. “Maka, kami buka dari pukul 06.00 hingga 23.00,” ungkapnya.

Dari waktu ke waktu usahanya terus berkembang, akhirnya ia membuka beberapa cabang baru. “Untuk cabang di Jalan Puri Anjasmoro dan Pujasera Lawang sewu buka dari pukul 10.00 – 21.00,” jelasnya.

Usaha yang dirintis ibu dari 5 orang anak ini terinspirasi dari seringnya jajan di luar rumah. “Suami sering mengajak makan di warung-warung di Semarang. Saya jadi tahu peluang bisnis kuliner, mana yang belum ada. Akhirnya saya memutuskan untuk buka warung es rumpi ini, yang masih belum banyak saingan,” katanya.(eny/lis)

Tahu Pong Gajahmada

Tahu Pong Gajah Mada

Tahu Pong Gajah Mada

Menikmati kuliner khas Semarang, tampaknya belum lengkap, jika tak singgah di Tahu Pong Gajahmada. Makanan yang disajikan dengan ciri khas kuah kecap ini, cukup populer di Semarang bahkan melegenda.  Terbukti sejak warung didirikan tahun 1972 hingga sekarang masih eksis.

Makan sekali rasanya langsung plong alias lega.

Pendirinya adalah almarhum Ny Ngatini. Saat ini, warung yang berlokasi di Jalan Gajahmada no 63 B Semarang tersebut dikembangkan oleh generasi kedua yaitu Miharto, 68, warga Tanggul Mas Barat Gang 5 no 69 Semarang dan Marsiyah, 60, warga Tanggul Mas Barat 5 no 71 Semarang.

Warung dengan 7 pelayan ini masih terus dikunjungi pelanggan. Menurut Miharto, salah satu kunci sukses, dalam mempertahankan keberadaan warungnya adalah dengan menjaga kualitas. “Tahu pong di tempat ini rasanya gurih, selain itu ukuran juga besar sekitar 10 cm dengan tebal 2 cm,” ujarnya.

Harga satu porsi tahu pong pun bervariasi, tergantung dari isi tahu pong tersebut. Tahu pong tanpa isi harganya sekitar Rp 8 ribu, tahu pong gimbal Rp 14 ribu, tahu pong telur Rp 17 ribu dan masih banyak lagi.

Tingginya minat pengunjung ke warung ini, dipengaruhi faktor lokasi di pinggir jalan raya yang merupakan pusat keramaian. “Kalau ditanya pelanggan kebanyakan dari mana, sepertinya semua kalangan. Mulai dari karyawan hingga pejabat,” terangnya.

Rata-rata setiap harinya, menghabiskan 70 hingga 80 porsi tahu pong. “Jika Sabtu dan Minggu jumlahnya bisa bertambah,” katanya.(eny/lis)

Bakso Bakar, Sedap Tanpa Kuah

Bakso Bakar

Bakso Bakar

Bakso, memang idola berbagai kalangan dari orang tua sampai anak-anak. Di kawasan Tembalang atau tepatnya di Jalan Prof Soedarto SH no 168 Semarang terdapat warung bakso yang layak disinggahi. Adalah Pondok Bakso Bakar Cak Wahid yang sangat khas.

Jika bakso lainnya dimasak dengan kuah, bakso Cak Wahid malah dibakar dan disajikan mirip dengan sate plus kecap dan bumbu lain. Satu tusuk terdapat tiga bakso yang disajikan dengan saus sambal yang sedap. Daging sapi yang diolah menjadi bakso terasa lezat dan empuk.

“Di tempat kami perbandingan daging bakso dan tepung antara 90 persen daging dan 10 persen tepung. Sehingga dagingnya terasa. Ini terlihat dari kulit baksonya yang beda,” tutur Budi Wahyudi salah seorang pemiliknya.

Bakso bakar Cak Wahid ini dimiliki Budi Wahyudi dan rekannya Sujianto. Mereka berdua berusaha mengangkat bakso dari makanan pinggiran menjadi makanan yang lebih representatif. Baik tempat maupun jenis masakannya. Ini terlihat dari cara penyajian baksonya yang berbeda dari lainnya.

Budi mempersilakan para pelanggan mengambil sendiri bakso yang diinginkannya. Sehingga kedainya lebih mirip supermarket bakso. “Saya ingin mengangkat makanan bakso, baik itu tempat maupun masakannya,” jelas suami dari Eveline ini.

Bakso yang disajikan bervariasi. Mulai dari bakso bakar, bakso goreng yang terdiri dari bakso pangsit, bakso gulung, dan bakso crispy. Bakso gulung adalah bakso berbentuk lonjong dengan lapisan di luarnya. Lalu ada bakso jenis baru yakni bakso crispy yang masuk dalam kategori bakso goreng. Bakso crispy merupakan hasil kreasi Budi.

Selain bakso goreng ada juga bakso kuah jenis keju. Yakni bakso yang di dalamnya terdapat potongan keju gurih. Lalu ada bakso sosis yang dibuat dari potongan sosis yang dibentuk bakso, bakso mercon alias bakso dengan rasa pedas sekeras mercon. Bakso urat, bakso spesial, bakso isi telur puyuh, bakso tahu, dan terakhir adalah bakso jumbo.

Jika bakso jumbo di tempat lain biasanya berisi cacahan daging sapi ataupun telur ayam, lain halnya dengan isi dari bakso jumbo Cak Wahid. Isi bakso jumbo telur asin.

Harga harga jangan kawatir, karena ada paket hemat mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 7.500. Warung baksonya buka jam 10.00 hingga 21.00. Untuk menjaga kualitas rasa, Budi membuat sendiri bumbu bakso kemudian diberikan kepada karyawan yang tinggal meracik baksonya. Dirinya mengharamkan segala macam jenis zat pengawet atau zat-zat lainnya dalam bahan baksonya.

Sebelum terjun ke dunia bakso, Budi sebelumnya adalah karyawan berbagai perusahaan besar. Kemudian mengundurkan diri untuk membuka usaha sendiri. (adi/jpnn/lis)

Sate Pak Kempleng

sate pak kempleng

sate pak kempleng

Bagi pecinta daging sapi, belum lengkap, jika tak mencicipi sate khas Pak Kempleng yang namanya cukup melegenda. Daging sate nan empuk dengan ukuran besar ditambah rasa bumbu kacang kental, menjadi keistimewaan sate Pak Kempleng. Tak heran jika para pelanggan sate Pak Kempleng, ingin datang kembali, untuk menyantap satenya. Warung sate Pak Kempleng terdapat sejumlah cabang, salah satunya di Jalan Perintis Kemerdekaan no 58 Banyumanik.
Nama Pak Kempleng yang digunakan sebagai nama warung, merupakan pendiri warung sate ini. Menurut Hj Sofiatun, 47, salah satu cucu Pak Kempleng, usaha warung sate ini, berdiri sejak tahun 1950 lalu. Dirintis oleh Sakimen atau yang lebih akrab disapa Pak Kempleng. “Dulu kakek saya Pak Kempleng, pertama kali berjualan sate sapi dengan cara keliling kampung,” kenang Sofiatun.
Usaha yang dirintis Pak Kempleng diteruskan oleh kedua anaknya. “Dari 2 orang anak itu, kini Pak Kempleng memiliki 20 cucu. Beberapa dari cucunya, hingga kini meneruskan usaha Pak Kempleng,” tambahnya.
Cabang Sate Pak Kempleng tersebar di sejumlah tempat. Di Ungaran sendiri ada 7 tempat. Selain itu terdapat di Jalan Diponegoro Semarang, Jalan Perintis Kemerdekaan no 58 Banyumanik, Jalan Pahlawan (kaki lima setiap sore dekat air mancur Undip) Semarang, Weleri Kendal, Gringsing Alas Roban, dan Jakarta.
Khusus sate Pak Kempleng cabang Jalan Perintis Kemerdekaan yang dikelola Sofiatun bersama suaminya Soetrisno, setiap hari buka dari jam 9.00 hingga 21.00. “Paling ramai biasanya saat jam makan siang dan makan malam,” kata ibu 4 anak ini.
Rata-rata dalam sehari, warung sate ini bisa menghabiskan sekitar 10 kilogram daging sapi, yang dibeli dari pasar di kawasan Ungaran. Khusus di hari Sabtu dan Minggu, warungnya bisa menghabiskan 13 hingga 14 kilogram daging sapi.
“Kami membeli daging setiap hari, agar terjaga kesegarannya. Selain itu, kami bisa memilih daging yang empuk,” terangnya. Harga yang ditawarkan untuk seporsi sate sapi, berjumlah 10 tusuk sekitar Rp 23 ribu.
Pelanggan warung sate Pak Kempleng banyak pula dari luar kota. Apalagi, warung sate ini, lokasinya cukup strategis di pinggir jalan raya. Dan memiliki area parkir yang luas.
Meski tergolong ramai, warung sate Pak Kempleng tidak menggunakan tenaga karyawan. “Selama ini kalau punya karyawan, setelah kami ajari dan pintar membuat sate kemudian keluar dan membuka usaha sendiri,”akunya.

Menyikapi, maraknya kemunculan warung sate sapi baru yang ada di Kota Semarang. Sofiatun mengaku, dirinya menyiasati dengan terus menjaga kualitas rasa dan meningkatkan pelayanan.(eny/lis)

Bakso Kepala Sapi

Bakso Kepala Sapi

Bakso Kepala Sapi

Anda ingin menyantap bakso tapi takut lemak? Bakso Kepala Sapi Depot 71 di Jalan Tawang Sari Utara no 71 Semarang ini bisa menjadi pilihan. Rendah lemak, halal dan rasanya mantap meskipun tanpa saos maupun kecap. Penasaran, coba saja.

Depot 71 yang dikelola suami istri Achmad Fauzi, 49 dan  Etty, 45 ini menyediakan aneka bakso dan jus menyegarkan. Ada bakso premium, komplit dan bakso jumbo. Menu bakso tersebut berbeda dengan yang dijual di warung-warung bakso pada umumnya.

Satu porsi bakso premium isinya bakso halus dan kasar, tahu bakso, siomay dan mi. Sedangkan bakso komplit terdiri atas bakso halus, bakso kasar, bakso goreng, tahu bakso, siomay dan mi. Untuk bakso jumbo berisi bakso jumbo yang berukuran besar, bakso goreng, tahu bakso, siomay dan mi.

Menurut Fauzi, mi bukan item yang wajib ada dalam menu baksonya. Tergantung pembeli, kalau tak ingin menambah mi tak masalah. Kuah bakso kepala sapi ini bening, karena memang rendah lemak. Tapi jangan khawatir, cita rasanya tetap sedap. Tidak kalah dengan bakso-bakso lain yang full lemak. Demikian juga biji baksonya amat lezat karena terbuat dari daging sapi pilihan.

Untuk jenis bakso kasar maupun halus terbuat dari daging lunak kepala sapi. “Siomay rasanya istimewa karena dibuat dari daging kepala sapi,”ujar Achmad Fauzi kemarin (3/6).

Di samping menu satu porsi bakso premium, komplit dan jumbo, konsumen dapat menambah per biji bakso yang disukai. Misalnya tambah bakso jumbo, atau  bakso kasar, siomay maupun tahu bakso. Harganya cukup terjangkau pelanggan.

Satu porsi bakso jumbo Rp 10.000, bakso komplit Rp 7.500 dan bakso premium hanya Rp 6.000. Bila ingin menambah satu biji bakso kasar atau halus masing-masing harganya Rp 1500.

“Moto kami, makin nikmat tanpa saos dan kecap. Karena memang bumbu kuahnya sudah enak,”ujar Etty.

Bagi yang takut kolesterol terutama yang usianya di atas kepala 4, bakso sehat kepala sapi ini bisa menjadi menu pilihan. Tanpa borax dan bebas formalin. Ini dikuatkan dengan sertifikat dari MUI dan Badan POM.

Depot 71 baru didirikan 2 bulan lalu tepatnya pada 8 April 2009. Fauzi adalah seorang kontraktor yang tertarik membuka warung bakso kepala sapi yang merupakan franchise dari Surabaya.

“Bakso itu disukai semua kalangan, dari anak kecil sampai dewasa,”katanya memberi alasan memilih buka warung bakso.

Respon konsumen menurut dia cukup bagus. Terutama melayani pesanan dari karyawan kantor-kantor. “Mungkin karena letak warung kami berada di dalam perumahan, masyarakat tidak banyak yang tahu,”kata bapak 3 anak itu. (lis)